Oleh Al Ustadz Abu Khaulah Zainal A
Sungguh, saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku. Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi olehnya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.
Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa.
Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi itu? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepadaku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?
Sanggupkah aku menjawabnya? ...
Apa yang akan aku katakan, ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku? Cukupkah kujawab: Rabb-ku adalah Allah Subhanahu Wa Ta’aala? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.”? Bolehkah aku beranggapan : “Bahwa tanda keridhaan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku maksiat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang taat dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.”
Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul?
Ya, Allah. Ternyata tak ada jalan untuk mengenalMu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia - sebelum di akhirat kelak tentunya-.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: ”Agama ini tidak realistis, kurang membumi.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Zaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah.”? Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalamnya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku darinya.
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam? Semudah itukah fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu 'Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat.” ? Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah, atau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan ? Mengapa akal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabannya.
Sanggupkah aku menjawabnya ?...
Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya Allah. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:
“Allah Subhanahu Wa Ta’aala meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat...”(QS.Ibrahim: 27)
WARNET EDUCATION AND FUN JL. SULTAN HASANUDDIN NO.6 KEL. WATULIANDU KEC. KOLAKA, KAB. KOLAKA SULTRA 93515
Senin, 31 Mei 2010
MENYONGSONG KEMATIAN
Oleh Al Ustadz Muhammad As-Sewed
Pintu Taubat Belum Ditutup
Setelah kita mengetahui bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan, dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.
Untuk itu, perbanyaklah bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa-dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin malik dikatakan: “Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.’ (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).
Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Az-Zumar: 53)
Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat zhalim kepada makhluk-Nya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat zhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (QS.Qaf: 28-29)
Allah subhaanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.
Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)
Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.
Saat Pintu Taubat Akan Ditutup
Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.
Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(QS.Al Baqarah: 96).
Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS.Al Fajr: 27-28).
Lebih rinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari Al Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit. Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”
Adapun tentang orang kafir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.) Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu-bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Alllah:
“…sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…“(QS.Al A’raaf: 40).
Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Allah:
”…Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh…” (QS.Al Hajj: 31)
Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka….” (HR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H/08 April 2005 M)
Pintu Taubat Belum Ditutup
Setelah kita mengetahui bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan, dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.
Untuk itu, perbanyaklah bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa-dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin malik dikatakan: “Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.’ (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).
Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Az-Zumar: 53)
Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat zhalim kepada makhluk-Nya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat zhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (QS.Qaf: 28-29)
Allah subhaanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.
Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)
Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.
Saat Pintu Taubat Akan Ditutup
Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.
Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(QS.Al Baqarah: 96).
Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS.Al Fajr: 27-28).
Lebih rinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari Al Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit. Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”
Adapun tentang orang kafir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.) Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu-bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Alllah:
“…sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…“(QS.Al A’raaf: 40).
Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Allah:
”…Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh…” (QS.Al Hajj: 31)
Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka….” (HR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H/08 April 2005 M)
LURUSKAN SHAF KALIAN
Oleh Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy
Kedudukan dan Pentingnya Shalat
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.
Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.
Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.
Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Bukhari dan Al Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu'man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih)." (HR. Bukhari no.717 dan Muslim 436)
Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan, "Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS.At-Taubah: 128)
Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.
Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
"Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.
Demikian juga kalimat setelahnya, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.
Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "berpalingnya atau berselisihnya wajah".
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mampu atas segala sesuatu.
Dialah Allah 'Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta'ala berkata kepada mereka,
"Jadilah kalian kera yang hina" (QS.Al Baqarah: 65)
maka jadilah mereka kera.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.
Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, "atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian."
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.
Wajibnya Meluruskan Shaf
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, wal'iyaadzu billaah.
Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah 'Umar Ibnul Khaththab, 'Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus" maka 'Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.
Demikian juga hal ini dilakukan oleh 'Utsman bin 'Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus", beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.
Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.
Kadang-kadang mereka lurus pada raka'at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka'at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka'at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.
Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta'aan.
Semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami'naa wa atha'naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami'naa wa 'ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.
Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum
Kalau ada yang bertanya, "Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?"
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu 'Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu 'Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun 'alaihi)
Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, "Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan", karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.
Jangan Ada yang Menonjol Dadanya
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah." Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.
Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?
Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A'lam.
Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.
(Dikutip dari bulletin Al Wala' wal Bara', Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi'uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)
Kedudukan dan Pentingnya Shalat
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.
Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.
Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.
Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Bukhari dan Al Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu'man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih)." (HR. Bukhari no.717 dan Muslim 436)
Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan, "Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS.At-Taubah: 128)
Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.
Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
"Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.
Demikian juga kalimat setelahnya, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.
Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "berpalingnya atau berselisihnya wajah".
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mampu atas segala sesuatu.
Dialah Allah 'Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta'ala berkata kepada mereka,
"Jadilah kalian kera yang hina" (QS.Al Baqarah: 65)
maka jadilah mereka kera.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.
Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, "atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian."
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.
Wajibnya Meluruskan Shaf
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, wal'iyaadzu billaah.
Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah 'Umar Ibnul Khaththab, 'Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus" maka 'Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.
Demikian juga hal ini dilakukan oleh 'Utsman bin 'Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus", beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.
Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.
Kadang-kadang mereka lurus pada raka'at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka'at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka'at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.
Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta'aan.
Semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami'naa wa atha'naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami'naa wa 'ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.
Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum
Kalau ada yang bertanya, "Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?"
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu 'Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu 'Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun 'alaihi)
Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, "Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan", karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.
Jangan Ada yang Menonjol Dadanya
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah." Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.
Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?
Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A'lam.
Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.
(Dikutip dari bulletin Al Wala' wal Bara', Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi'uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)
MOTIVASI UNTUK SABAR
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Ayat-ayat Al Qur'an tentang Sabar
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS.Az-Zumar: 10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS.Asy-Syuuraa: 43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 153)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian." (QS.Muhammad: 31)
Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.
Pengertian dan Jenis-jenis Sabar
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Allah juga berfirman
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS.Thaha: 132)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 23-24)
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS.Al-Kahfi: 28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.
Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Yusuf: 33)
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).
Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.
Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 24)
Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS.Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR.Bukhariy dan Muslim)
Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Keadaan keempat: bersyukur.
Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.
Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.
Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.
Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.
Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.
Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya."
Tingkatan Sabar
Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.
Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.
Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.
Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.
Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.
(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)
(Sumber: Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
Ayat-ayat Al Qur'an tentang Sabar
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS.Az-Zumar: 10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS.Asy-Syuuraa: 43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 153)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian." (QS.Muhammad: 31)
Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.
Pengertian dan Jenis-jenis Sabar
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Allah juga berfirman
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS.Thaha: 132)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 23-24)
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS.Al-Kahfi: 28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.
Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Yusuf: 33)
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).
Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.
Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 24)
Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS.Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR.Bukhariy dan Muslim)
Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Keadaan keempat: bersyukur.
Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.
Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.
Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.
Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.
Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.
Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya."
Tingkatan Sabar
Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.
Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.
Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.
Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.
Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.
(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)
(Sumber: Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
BERSABARLAH WAHAI SAUDARAKU
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Kriteria Orang yang Paling Mulia
Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS.Al-Hujurat: 13)
Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (HR. Al-Hakim)
Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).
Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Hendaklah Orang yang Mampu Membantu
Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS.Al-Maidah: 2)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Berdo'a ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad)
Juga do'a berikut ini:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Bukhariy)
Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan
Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.
Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin)
Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub:
"Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.
(Sumber: Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-4 Tahun ke-3/17 Desember 2004 M/05 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli ‘Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku’ Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Kriteria Orang yang Paling Mulia
Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS.Al-Hujurat: 13)
Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (HR. Al-Hakim)
Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).
Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Hendaklah Orang yang Mampu Membantu
Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS.Al-Maidah: 2)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Berdo'a ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad)
Juga do'a berikut ini:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Bukhariy)
Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan
Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.
Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin)
Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub:
"Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.
(Sumber: Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-4 Tahun ke-3/17 Desember 2004 M/05 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli ‘Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku’ Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
SABAR TERHADAP TAKDIR
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta'ala.
Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur
Qadar atau taqdir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqdur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi'lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta'ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.
Contohnya adalah ‘Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar’, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).
Sedangkan al-maqdur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqdur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: "Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan."
Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqdur.
Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?
Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:
Pertama, marah. Yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman:
"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS.Al-Hajj: 11)
Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan, kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.
Kedua, sabar. Yaitu sebagaimana ucapan penyair:
"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.
Ketiga, ridha. Dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.
Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.
Keempat, bersyukur. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'A`isyah)
"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)
Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.
Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS.At-Taghaabun: 11)
Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.
Firman-Nya "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas): "Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."
Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.
Tanda Kebaikan & Kejelekan Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:
"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim dari 'Ali bin Abi Thalib)
Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.
Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS.Huud: 107)
Dan juga Dia berfirman:
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS.Al-Hajj: 18)
Maka semua perkara itu di tangan Allah. Seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.
Jelasnya, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.
Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.
Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.
Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.
Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian" yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.
"Dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka" ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).
Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq.
(Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)
(Dikutip dari Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3/31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung
Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta'ala.
Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur
Qadar atau taqdir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqdur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi'lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta'ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.
Contohnya adalah ‘Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar’, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).
Sedangkan al-maqdur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqdur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: "Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan."
Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqdur.
Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?
Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:
Pertama, marah. Yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman:
"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS.Al-Hajj: 11)
Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan, kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.
Kedua, sabar. Yaitu sebagaimana ucapan penyair:
"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.
Ketiga, ridha. Dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.
Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.
Keempat, bersyukur. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'A`isyah)
"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)
Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.
Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS.At-Taghaabun: 11)
Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.
Firman-Nya "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas): "Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."
Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.
Tanda Kebaikan & Kejelekan Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:
"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim dari 'Ali bin Abi Thalib)
Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.
Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS.Huud: 107)
Dan juga Dia berfirman:
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS.Al-Hajj: 18)
Maka semua perkara itu di tangan Allah. Seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.
Jelasnya, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.
Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.
Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.
Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.
Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian" yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.
"Dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka" ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).
Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq.
(Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)
(Dikutip dari Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3/31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung
Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Adzab (1)
Oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi
Pembahasan kita kali ini secara umum masih terbilang dari keutamaan Tauhid. Kita angkat tema ini secara lebih khusus karena merupakan keutamaan tauhid yang sangat istimewa bagi para pemeluknya. Tidak semua pemeluk tauhid dapat memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keutamaan ini hanya bagi seorang yang benar-benar merealisasikan tauhid dengan sempurna.
Dalil yang menandaskan tentang keutamaan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma. Bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عرضتُ عَلَي الأممِ، فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب
"Telah ditampakkan umat-umat kepadaku.Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku serombongan besar (yang terlihat dari kejauhan). Aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya”. Kemudian aku melihat serombongan besar yang lain. Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.
Selanjutnya beliau bangkit dan segera masuk ke rumahnya. orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Sebagian orang berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam”. Sedangkan sebagian yang lain berkata, “barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan pada masa Islam. Sehingga mereka tak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikitpun”. Berikutnya mereka menyebutkan beberapa kemungkiunan lain.
mereka memberitahukan perkaranya kepada Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau keluar . Maka beliau bersabda,
هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta di ruqyah, tidak meminta di kay, tidak melakukan tathayyur dan hanya bertawakkal kepada Robb mereka”.
Lalu 'Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.
Beliau menjawab,
“Engkau termasuk golongan mereka.”
Kemudian seseorang ikut berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka”.
Beliau menjawab, “Engkau telah kedahuluan 'Ukasyah".
Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil. Marilah kita menyimak uraiannya satu persatu dengan mengharap wajah allah.
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
عُرِضْتُ عَلَي الأممِ
“Ditampakkan umat-umat kepadaku”
Allah yang maha tahu kapan yang demikan ditampakkan kepada beliau. Maksud pernyataan beliau bahwa Allah memperlihatkan kepadanya perumpamaan saat para nabi datang bersama pengikutnya di hari kiamat nanti. (lihat qurrotul ‘uyun karya syaikh Abdurrahman Alus syaikh hal.27)
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد
“Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.”
Pernyataan beliau diatas mengabarkan bahwa yang selamat dari setiap umat hanya berjumlah sedikit. Mayoritas mereka lebih cenderung mengikuti tabiat manusia berupa pengingkaran kepada para Rosul. akhirnya mereka binasa. Allah berfirman,
(1)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An`am:116)
(2)
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’rof:102)
(3)
“Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".” (Ar-Ruum : 42)
Banyak ayat-ayat yang senada dengan beberapa firman Allah di atas dalam Al-quran.
Orang-orang yang selamat pada hari kiamat nanti walaupun berjumlah sedikit tetapi mereka disebut dengan nama As-sawadul A’zhom (golongan yang besar). Sebab mereka memiliki nilai yang besar di sisi Allah meskipun berjumlah sedikit. Maka hendaknya seorang muslim berhati-hati agar jangan terpedaya dengan jumlah mayoritas. Berapa banyak orang yang terpedaya dengan jumlah mayoritas. Sampai sebagian orang yang mengaku berilmu meyakini masalah agama seperti keyakinan orang-orang yang bodoh dan sesat. Mereka tidak mau menoleh kepada firman Allah dan sabda Rosul-Nya, (sehingga mereka hanya mengukur kebenaran dengan jumlah mayoritas semata). (Lihat Qurrotul ‘Uyun hal.27-28)
Kebenaran Tidak Diukur dengan Jumlah Mayoritas
Hadits diatas menceritakan tentang seorang nabi yang dibangkitkan pada hari kiamat namun tak seorang pun bersamanya. Maksudnya nabi itu tidak memiliki seorang pengikut pun tatkala Allah mengutusnya kepada suatu kaum. Allah hendak menegakkan hujjah kepada manusia dengan mengutusnya. Dengan demikian Allah mengangkat seluruh alasan sebab Allah telah menegakkan hujjah atas mereka. (lihat Al-qoulul Mufid karya Ibnu Utsaimin 1/94-95)
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebenaran sering berpihak kepada jumlah minoritas dan menjauh dari jumlah mayoritas. Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي علي الحق ظاهرين, لا يضرهم من خالفهم, و لا من خذلهم حتي يأتي أمر الله و هم علي ذلك
“Senantiasa sekelompok kecil dari umatku tampak nyata diatas kebenaran. Mereka tidak dibahayakan oleh orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang perintah allah dalam keadaan mereka tetap demikian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Mu`awiyah radhiyallahu `anhu)
Syaikh Abdur rahman bin Hasan Alus-syaikh berkata: “sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam:
Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan jumlah mayoritas sebagai argumen (kebenaran).” (lihat Fathul Majid karya beliau hal.83)
Pembahasan ini mengingatkan kita kepada sebuah kesesatan yang tertanam pada sistem demokrasi. Yaitu menetapkan kebenaran segala sesuatu dengan suara mayoritas. Ini adalah kesesatan yang nyata tanpa dapat diragukan lagi. Terlalu banyak dalil dari Al-quran dan As-sunnah yang menegaskan kesesatan prinsip demokrasi ini. Diantaranya sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas. Ukuran kebenaran adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabinya baik berupa Al-quran maupun As-sunnah. Allah berfirman,
(4)
“Kebenaran itu adalah dari Robbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqoroh:147)
Dalam ayat lain,
(5)
“Ikutilah wahyu yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selainnya.” (Al-A’raaf:3)
Sebaliknya dalam Al-Quran justru Allah melarang untuk mengikuti kebanyakan orang,
(6)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am:116)
Allah tidak memerintahkan kita untuk mengikuti suara mayoritas. Akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk mengikuti kebenaran yang datang dari sisinya walaupun hanya segelintir orang yang berpihak kepadanya. Kita berharap semoga kaum muslimin mau meninggalkan sistem demokrasi yang sesat ini, demi kebahagian hidup mereka didunia sebelum akherat. Allahul Musta`an
Wallahu a’lam bis shawab
Bersambung...
Pembahasan kita kali ini secara umum masih terbilang dari keutamaan Tauhid. Kita angkat tema ini secara lebih khusus karena merupakan keutamaan tauhid yang sangat istimewa bagi para pemeluknya. Tidak semua pemeluk tauhid dapat memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keutamaan ini hanya bagi seorang yang benar-benar merealisasikan tauhid dengan sempurna.
Dalil yang menandaskan tentang keutamaan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma. Bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عرضتُ عَلَي الأممِ، فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب
"Telah ditampakkan umat-umat kepadaku.Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku serombongan besar (yang terlihat dari kejauhan). Aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya”. Kemudian aku melihat serombongan besar yang lain. Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.
Selanjutnya beliau bangkit dan segera masuk ke rumahnya. orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Sebagian orang berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam”. Sedangkan sebagian yang lain berkata, “barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan pada masa Islam. Sehingga mereka tak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikitpun”. Berikutnya mereka menyebutkan beberapa kemungkiunan lain.
mereka memberitahukan perkaranya kepada Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau keluar . Maka beliau bersabda,
هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta di ruqyah, tidak meminta di kay, tidak melakukan tathayyur dan hanya bertawakkal kepada Robb mereka”.
Lalu 'Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.
Beliau menjawab,
“Engkau termasuk golongan mereka.”
Kemudian seseorang ikut berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka”.
Beliau menjawab, “Engkau telah kedahuluan 'Ukasyah".
Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil. Marilah kita menyimak uraiannya satu persatu dengan mengharap wajah allah.
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
عُرِضْتُ عَلَي الأممِ
“Ditampakkan umat-umat kepadaku”
Allah yang maha tahu kapan yang demikan ditampakkan kepada beliau. Maksud pernyataan beliau bahwa Allah memperlihatkan kepadanya perumpamaan saat para nabi datang bersama pengikutnya di hari kiamat nanti. (lihat qurrotul ‘uyun karya syaikh Abdurrahman Alus syaikh hal.27)
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد
“Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.”
Pernyataan beliau diatas mengabarkan bahwa yang selamat dari setiap umat hanya berjumlah sedikit. Mayoritas mereka lebih cenderung mengikuti tabiat manusia berupa pengingkaran kepada para Rosul. akhirnya mereka binasa. Allah berfirman,
(1)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An`am:116)
(2)
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’rof:102)
(3)
“Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".” (Ar-Ruum : 42)
Banyak ayat-ayat yang senada dengan beberapa firman Allah di atas dalam Al-quran.
Orang-orang yang selamat pada hari kiamat nanti walaupun berjumlah sedikit tetapi mereka disebut dengan nama As-sawadul A’zhom (golongan yang besar). Sebab mereka memiliki nilai yang besar di sisi Allah meskipun berjumlah sedikit. Maka hendaknya seorang muslim berhati-hati agar jangan terpedaya dengan jumlah mayoritas. Berapa banyak orang yang terpedaya dengan jumlah mayoritas. Sampai sebagian orang yang mengaku berilmu meyakini masalah agama seperti keyakinan orang-orang yang bodoh dan sesat. Mereka tidak mau menoleh kepada firman Allah dan sabda Rosul-Nya, (sehingga mereka hanya mengukur kebenaran dengan jumlah mayoritas semata). (Lihat Qurrotul ‘Uyun hal.27-28)
Kebenaran Tidak Diukur dengan Jumlah Mayoritas
Hadits diatas menceritakan tentang seorang nabi yang dibangkitkan pada hari kiamat namun tak seorang pun bersamanya. Maksudnya nabi itu tidak memiliki seorang pengikut pun tatkala Allah mengutusnya kepada suatu kaum. Allah hendak menegakkan hujjah kepada manusia dengan mengutusnya. Dengan demikian Allah mengangkat seluruh alasan sebab Allah telah menegakkan hujjah atas mereka. (lihat Al-qoulul Mufid karya Ibnu Utsaimin 1/94-95)
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebenaran sering berpihak kepada jumlah minoritas dan menjauh dari jumlah mayoritas. Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي علي الحق ظاهرين, لا يضرهم من خالفهم, و لا من خذلهم حتي يأتي أمر الله و هم علي ذلك
“Senantiasa sekelompok kecil dari umatku tampak nyata diatas kebenaran. Mereka tidak dibahayakan oleh orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang perintah allah dalam keadaan mereka tetap demikian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Mu`awiyah radhiyallahu `anhu)
Syaikh Abdur rahman bin Hasan Alus-syaikh berkata: “sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam:
Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan jumlah mayoritas sebagai argumen (kebenaran).” (lihat Fathul Majid karya beliau hal.83)
Pembahasan ini mengingatkan kita kepada sebuah kesesatan yang tertanam pada sistem demokrasi. Yaitu menetapkan kebenaran segala sesuatu dengan suara mayoritas. Ini adalah kesesatan yang nyata tanpa dapat diragukan lagi. Terlalu banyak dalil dari Al-quran dan As-sunnah yang menegaskan kesesatan prinsip demokrasi ini. Diantaranya sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas. Ukuran kebenaran adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabinya baik berupa Al-quran maupun As-sunnah. Allah berfirman,
(4)
“Kebenaran itu adalah dari Robbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqoroh:147)
Dalam ayat lain,
(5)
“Ikutilah wahyu yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selainnya.” (Al-A’raaf:3)
Sebaliknya dalam Al-Quran justru Allah melarang untuk mengikuti kebanyakan orang,
(6)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am:116)
Allah tidak memerintahkan kita untuk mengikuti suara mayoritas. Akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk mengikuti kebenaran yang datang dari sisinya walaupun hanya segelintir orang yang berpihak kepadanya. Kita berharap semoga kaum muslimin mau meninggalkan sistem demokrasi yang sesat ini, demi kebahagian hidup mereka didunia sebelum akherat. Allahul Musta`an
Wallahu a’lam bis shawab
Bersambung...
Sabtu, 29 Mei 2010
Andaikan Mereka Bersabar
Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da’i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu.Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah, namun dengan cara yang salah !!
Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!".
Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau demo, mengkafirkan penguasa muslim, dan mencelanya!! Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!! Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl :127-128 ).
Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengan kesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar. Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.
Umair bin Habib Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]
Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu. Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya. Terlebih lagi para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut: 2-3).
Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya. Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’idan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran. Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.
Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang. Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.
Al-Mughiroh bin Amir-rahimahullah- berkata,
الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
"Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.
Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?" Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
"Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]
Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ Salafiy,Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan). Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur, tapi bukan dengan cara berbuat keributan, tanpa mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa. Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan sehingga bergejolak (marah), dan bangkit, karena terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi". [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]
Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-. Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.
Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda. Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan. Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik, mereka melakukan aksi-aksi teror dengan melakukan peledakan di mana-mana. Berawal dengan aksi spektakuler yaitu aksi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon, tanggal 11 September 2001. Muncullah sosok Usamah bin Laden yang disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Nama Usamah bin Laden seketika itu menjadi "tenar" di dunia internasional. Hasilnya, Amerika Serikat membumihanguskan Afganistan dan Thaliban serta menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin yang lain dengan alasan memerangi kaum teroris.
Di negeri kita pun tidak kalah heboh, orang-orang yang tidak mau bersabar dan picik pikirannya banyak melakukan aksi-aksi peledakan di nusantara ini. Mulai dari bom di Legian, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Kemudian disusul peledakan di hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003. Berselang berikutnya, disusul lagi peristiwa berdarah pada tanggal 9 September 2004 meledak pula bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia. Tak usah jauh, di pelupuk mata kita, yaitu Mall Ratu Indah Makassar pun tidak lepas dari sasaran orang-orang teroris lagi picik ini!! Sehingga tertumpahlah darah orang-orang yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk dibunuh, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin dan harta benda mereka yang ikut menjadi korban dalam peristiwa-peristiwa berdarah itu!!! Na’udzu billah minal fitan
Andaikan mereka mau bersabar , bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok(6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad (636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804) ]
Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir. Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,
"Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. Al-Baqarah :91 ).
Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : "Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].
Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya. Mereka tidak keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi !!
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu ." (QS. Al-An’am :34 ).
Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang. Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!! Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuraa : 30).
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada. Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya seperti yang dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi". (QS.Ghofir :55 ).
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!".
Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau demo, mengkafirkan penguasa muslim, dan mencelanya!! Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!! Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl :127-128 ).
Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengan kesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar. Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.
Umair bin Habib Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]
Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu. Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya. Terlebih lagi para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut: 2-3).
Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya. Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’idan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran. Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.
Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang. Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.
Al-Mughiroh bin Amir-rahimahullah- berkata,
الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
"Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.
Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?" Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
"Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]
Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ Salafiy,Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan). Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur, tapi bukan dengan cara berbuat keributan, tanpa mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa. Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan sehingga bergejolak (marah), dan bangkit, karena terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi". [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]
Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-. Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.
Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda. Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan. Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik, mereka melakukan aksi-aksi teror dengan melakukan peledakan di mana-mana. Berawal dengan aksi spektakuler yaitu aksi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon, tanggal 11 September 2001. Muncullah sosok Usamah bin Laden yang disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Nama Usamah bin Laden seketika itu menjadi "tenar" di dunia internasional. Hasilnya, Amerika Serikat membumihanguskan Afganistan dan Thaliban serta menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin yang lain dengan alasan memerangi kaum teroris.
Di negeri kita pun tidak kalah heboh, orang-orang yang tidak mau bersabar dan picik pikirannya banyak melakukan aksi-aksi peledakan di nusantara ini. Mulai dari bom di Legian, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Kemudian disusul peledakan di hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003. Berselang berikutnya, disusul lagi peristiwa berdarah pada tanggal 9 September 2004 meledak pula bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia. Tak usah jauh, di pelupuk mata kita, yaitu Mall Ratu Indah Makassar pun tidak lepas dari sasaran orang-orang teroris lagi picik ini!! Sehingga tertumpahlah darah orang-orang yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk dibunuh, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin dan harta benda mereka yang ikut menjadi korban dalam peristiwa-peristiwa berdarah itu!!! Na’udzu billah minal fitan
Andaikan mereka mau bersabar , bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok(6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad (636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804) ]
Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir. Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,
"Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. Al-Baqarah :91 ).
Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : "Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].
Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya. Mereka tidak keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi !!
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu ." (QS. Al-An’am :34 ).
Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang. Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!! Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuraa : 30).
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada. Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya seperti yang dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi". (QS.Ghofir :55 ).
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Musuh Berwajah Ramah
Di saat ini, dunia tengah mengalami ancaman krisis moral secara global. Generasi muda yang tidak terbatas pada kaum muslimin saja, tengah dihadapkan pada penghancuran moral secara besar-besaran. Mulai dari narkoba, minuman keras, seks bebas dan penyelewengan terhadap norma agama lainnya. Hal ini dipicu dengan bantuan “si Musuh Berwajah Ramah” alias TV, yang telah berhasil meracuni otak-otak generasi muda. Kehidupan glamour para selebriti yang menawarkan gaya hidup mewah dan perilaku seks bebas, telah menjadi idaman para remaja Tak heran jika banyak para pemuda saat ini tergiur dengan dunia fatamorgana yang disajikan oleh televisi. Antrian panjangpun tak terelakkan ketika kontes artis dibuka. Mereka rela berdesak-desakkan sampai mengorbankan harga dirinya asalkan ia menjadi selebritis.
Televisi telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, manusia memandang bahwa wanita yang memperlihatkan dada dan paha (baca: berpakaian, tapi telanjang) adalah trend masa kini dan ciri era modern. Sehingga banyak manusia yang mengikutinya dan menjadikannya suatu kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya,
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. ”.(QS. Al-A’raf: 25).
Padahal dengan memperlihatkan dada dan pahanya akan menghilangkan rasa malu dan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah. Tidakkah mereka membaca peringatan Allah - Subhana Wa Ta’ala- di dalam Al-Qur’an,
" Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. " (QS. Al A’raf: 27)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa diantara makar setan adalah menelenjangi anak Adam sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawwa’. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, "Allah berfirman demikian dalam rangka mengingatkan anak cucu Adam tentang bahaya setan dan bala tentaranya, dan dalam rangka menjelaskan kepada mereka tentang permusuhan Iblis yang telah lama kepada Bapak manusia –alaihis salam- berupa usaha Iblis dalam mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan kampung kenikmatan menuju kampung kelelahan dan payah, dan Iblis juga menjadi penyebab tersingkapnya aurat Adam yang sebelumnya tertutup darinya. Hal ini tak akan terjadi, kecuali karena permusuhan yang kuat". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/420)]
Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat hingga mereka di hempaskan oleh setan hingga ke jurang kebinasaan yang abadi yaitu neraka. Dengan bantuan televisi, setan membuat kaum muslimin terbiasa menyaksikan kemaksiatan sehingga mereka meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah dan baik. Anas bin malik -radhiyallahu anhu- berkata,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus daripada rambut(sangat remah dan ringan). Namun kami di masa Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- manganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan”. [ HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ar-Riqoq (6492)]
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy]
Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.
Para pembaca budiman, setiap hari televisi menyajikan kepada kaum muslimin tontonan-tontonan yang erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show dan klip lagu yang sarat dengan muatan pornografi telah menjadi menu setiap hari. Para wanita meliuk-liuk di depan kamera dengan mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya. Mereka menjual auratnya demi kehidupan fatamorgana. Akibatnya paha dan dada sudah menjadi pemandangan setiap hari di tengah kaum muslimin. Rasa malu telah hilang dan aurat pun menjadi sangat murah. Mereka bukan saja mencelakakan dirinya sendiri bahkan membuat fitnah di tengah kaum laki-laki dan menyeret kaumnya ke lumpur kehinaan. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan tentang mereka,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُئُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَ كَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk kedalam surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [ HR. Muslim (2128)].
Kerusakan yang ditimbulkan oleh televisi untuk merusak akhlak dan meruntuhkan aqidah kaum muslimin begitu besar dan luas. Sebab, saat ini seolah-olah televisi dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Hingga menjadi aib jika suatu rumah tidak memilikinya. Hampir tak satu rumahpun baik yang berada di kota maupun di pedesaan, melainkan televisi telah hadir dan memberikan pengaruhnya. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta dan syahwat”. [Lihat Majalah Asy-Syari'ah ()]
Saluran-saluran televisi yang ada, seakan berlomba-lomba menyajikan tayangan dan gambar-gambar artis wanita. Oleh karenanya, kita melihat iklan-iklan yang ditayangkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wanita dan yang ditampilkan adalah perempuan yang membuka auratnya. Namun, yang ditonjolkan bukanlah kualitas produknya, tapi justru kemolekan tubuh dan kecantikan wajah wanita itu. Wanita hanyalah di jadikan pemancing agar orang melirik produknya. Padahal perlu diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tak boleh tampak di depan selain mahramnya. Jadi, rambut, dada, paha, kaki, dan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Aurat bukan cuma kemaluan dan sekitarnya, tapi seluruh tubuh wanita!!
Ketika Ummu Salamah bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ujung bawah pakaian wanita, maka beliau bersabda, "Turunkan sejengkal". Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahwa jika turun sejengkal saja, maka masih memungkinkan aurat wanita tersingkap. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ
"Kalau begitu turunkan satu depa (dua jengkal). Jangan melebihi satu depa" . [HR. Abu Dawud (4119), At-Tirmidziy (1731), dan Ibnu Majah (3581). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (hal. 80)]
Hadits ini menunjukkan bahwa pakaian wanita (jilbab) adalah menutupi dari ujung kepala sampai ke tanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mewajibkan wanita di zaman itu untuk menurunkan ujung pakaiannya sebanyak satu satu-dua jengkal dari tengah betis sampai menutupi telapak kaki.
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menutup kedua kaki wanita". [Lihat As-Sunan Al-Kubro (2/233) karya Al-Baihaqiy]
Pembaca budiman, televisi juga telah merusak kehidupan rumah tangga kaum muslimin. Pada hari ini, ibu-ibu sangat gandrung dengan sinetron dan telenovela yang seluruhnya menawarkan gaya hidup mewah dan modern. Dahulu ia bersikap lemah lembut, taat kepada suaminya, menundukkan pandangannya kepada suaminya (memuliakannya), memohon ridhanya jika suaminya marah dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya. Namun, ketika televisi masuk ke rumahnya, TV tersebut mengajarkan kepadanya untuk durhaka kepada suaminya dan bermuka masam di hadapannya. Ia menuntut suaminya supaya menambah berbagai perabot yang ia lihat di sinetron-sinetron dan berbagai bentuk dan mode pakaian yang dipamerkan di televisi. Ia pun melihat di televisi laki-laki yang lebih tampan dan lebih menarik dari suaminya. Akhirnya mulai menertawakan suaminya dan menghinakannya, sehingga rusaklah kehidupan rumah tangganya.
Televisi juga telah melatih para pemuda tentang cara mencuri atau merampok melalui film-film yang mereka saksikan. Dahulu kejahatan masih sangat sedehana sehingga dalam tempo yang singkat dapat terungkap. Adapun sekarang, para penjahat mendapatkan cara dan modus kejahatan terbaru yang didapat dari televisi. Betapa banyak terjadi penculikan, perkosaan dan pembunuhan berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu dan sistematis, serta mampu melemahkan petugas dan menyulitkan mereka untuk mengungkap otak pelaku kerjahatan itu.
Begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan televisi, tapi kebanyakan manusia menutup mata darinya. Dosa yang ditimbulkan televisi begitu besar dan banyak. Dengan dalih berita dan informasi, semua dosa itu menjadi remeh, sirna dan termaafkan.
Fenomena ini sangat mengiris hati kaum mukminin. Hati yang dipenuhi dengan pengagungan kepada perintah dan larangan-larangan Allah - Subhana Wa Ta’ala-. Hanya kepada Allah mereka mengadukan kesedihan ini. Sebab mereka takut akan ancaman Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an ketika merajalelanya kemaksiatan,
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS. Al-Anfal: 25)
Ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab-Nya pada suatu kaum, maka tidak ada yang bisa mencegahnya, walaupun orang-orang shalih berada ditengah mereka. Zainab bintu Jahsyin -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-, ”Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ditengah kita ada orang-orang shalih?”. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نَعَمْ, إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, apabila telah banyak kejelekan” .[HR. Al-Bukhari (7059) dan Muslim (2880)].
Kita yang hidup di zaman ini , seharusnya lebih takut dan khawatir kepada ancaman Allah Yang Maha Keras Siksanya. Kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan, zaman yang penuh dengan fitnah (problema & ujian) dan banyaknya orang yang durhaka kepada Allah serta sangat sedikit orang-orang yang taat. Hal ini bisa kita lihat ketika sebuah konser musik di gelar, maka ribuan manusiapun berbondong-bondong kesana, walaupun hujan lebat mengguyurnya. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika dalam perkara yang ma’ruf. Lihatlah rumah-rumah Allah kosong melompong ketika waktu sholat telah datang. Tidak ada yang menghadirinya melainkan hanya segilintir orang dari kaum muslimin. Itupun kebanyakannya kakek-kakek yang sudah hampir mati.
Wahai kaum muslimin, dahulu betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam ketenangan dan keamanan. Mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan dan melimpahnya makanan. Kemudian Allah membinasakan dan menggantikan keadaan mereka. Allah - Subhana Wa Ta’ala- mengganti nikmat itu dengan kelaparan, rasa takut dan adzab yang pedih. Hal ini disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah - Subhana Wa Ta’ala- . Dengarkan Allah mengisahkan perihal mereka,
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat" . (QS. An-Nahl :112)
Ketahuilah, dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar yang membinasakan umat-umat terdahulu. Hawa nafsu telah menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan merasakan pedihnya siksa Allah Yang Maha Perkasa. Padahal mereka memiliki badan-badan yang lebih kuat dari kita, harta-harta yang melimpah dan tentara-tentara yang banyak. Namun semua itu, tidak mampu melindungi mereka dari murka Allah sedikitpun!! [Lihat Ad-Daa'u wa Ad-Dawaa' (hal.65-67) oleh Ibn Al-Qoyyim, tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauzy]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya" .(QS. Qoof: 36-37).
Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (tobat yang tulus) dan kembalilah kepada-Nya. Semoga Allah -Azza wa Jalla- meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya.
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 113 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Televisi telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, manusia memandang bahwa wanita yang memperlihatkan dada dan paha (baca: berpakaian, tapi telanjang) adalah trend masa kini dan ciri era modern. Sehingga banyak manusia yang mengikutinya dan menjadikannya suatu kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya,
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. ”.(QS. Al-A’raf: 25).
Padahal dengan memperlihatkan dada dan pahanya akan menghilangkan rasa malu dan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah. Tidakkah mereka membaca peringatan Allah - Subhana Wa Ta’ala- di dalam Al-Qur’an,
" Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. " (QS. Al A’raf: 27)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa diantara makar setan adalah menelenjangi anak Adam sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawwa’. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, "Allah berfirman demikian dalam rangka mengingatkan anak cucu Adam tentang bahaya setan dan bala tentaranya, dan dalam rangka menjelaskan kepada mereka tentang permusuhan Iblis yang telah lama kepada Bapak manusia –alaihis salam- berupa usaha Iblis dalam mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan kampung kenikmatan menuju kampung kelelahan dan payah, dan Iblis juga menjadi penyebab tersingkapnya aurat Adam yang sebelumnya tertutup darinya. Hal ini tak akan terjadi, kecuali karena permusuhan yang kuat". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/420)]
Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat hingga mereka di hempaskan oleh setan hingga ke jurang kebinasaan yang abadi yaitu neraka. Dengan bantuan televisi, setan membuat kaum muslimin terbiasa menyaksikan kemaksiatan sehingga mereka meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah dan baik. Anas bin malik -radhiyallahu anhu- berkata,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus daripada rambut(sangat remah dan ringan). Namun kami di masa Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- manganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan”. [ HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ar-Riqoq (6492)]
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy]
Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.
Para pembaca budiman, setiap hari televisi menyajikan kepada kaum muslimin tontonan-tontonan yang erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show dan klip lagu yang sarat dengan muatan pornografi telah menjadi menu setiap hari. Para wanita meliuk-liuk di depan kamera dengan mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya. Mereka menjual auratnya demi kehidupan fatamorgana. Akibatnya paha dan dada sudah menjadi pemandangan setiap hari di tengah kaum muslimin. Rasa malu telah hilang dan aurat pun menjadi sangat murah. Mereka bukan saja mencelakakan dirinya sendiri bahkan membuat fitnah di tengah kaum laki-laki dan menyeret kaumnya ke lumpur kehinaan. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan tentang mereka,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُئُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَ كَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk kedalam surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [ HR. Muslim (2128)].
Kerusakan yang ditimbulkan oleh televisi untuk merusak akhlak dan meruntuhkan aqidah kaum muslimin begitu besar dan luas. Sebab, saat ini seolah-olah televisi dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Hingga menjadi aib jika suatu rumah tidak memilikinya. Hampir tak satu rumahpun baik yang berada di kota maupun di pedesaan, melainkan televisi telah hadir dan memberikan pengaruhnya. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta dan syahwat”. [Lihat Majalah Asy-Syari'ah ()]
Saluran-saluran televisi yang ada, seakan berlomba-lomba menyajikan tayangan dan gambar-gambar artis wanita. Oleh karenanya, kita melihat iklan-iklan yang ditayangkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wanita dan yang ditampilkan adalah perempuan yang membuka auratnya. Namun, yang ditonjolkan bukanlah kualitas produknya, tapi justru kemolekan tubuh dan kecantikan wajah wanita itu. Wanita hanyalah di jadikan pemancing agar orang melirik produknya. Padahal perlu diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tak boleh tampak di depan selain mahramnya. Jadi, rambut, dada, paha, kaki, dan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Aurat bukan cuma kemaluan dan sekitarnya, tapi seluruh tubuh wanita!!
Ketika Ummu Salamah bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ujung bawah pakaian wanita, maka beliau bersabda, "Turunkan sejengkal". Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahwa jika turun sejengkal saja, maka masih memungkinkan aurat wanita tersingkap. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ
"Kalau begitu turunkan satu depa (dua jengkal). Jangan melebihi satu depa" . [HR. Abu Dawud (4119), At-Tirmidziy (1731), dan Ibnu Majah (3581). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (hal. 80)]
Hadits ini menunjukkan bahwa pakaian wanita (jilbab) adalah menutupi dari ujung kepala sampai ke tanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mewajibkan wanita di zaman itu untuk menurunkan ujung pakaiannya sebanyak satu satu-dua jengkal dari tengah betis sampai menutupi telapak kaki.
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menutup kedua kaki wanita". [Lihat As-Sunan Al-Kubro (2/233) karya Al-Baihaqiy]
Pembaca budiman, televisi juga telah merusak kehidupan rumah tangga kaum muslimin. Pada hari ini, ibu-ibu sangat gandrung dengan sinetron dan telenovela yang seluruhnya menawarkan gaya hidup mewah dan modern. Dahulu ia bersikap lemah lembut, taat kepada suaminya, menundukkan pandangannya kepada suaminya (memuliakannya), memohon ridhanya jika suaminya marah dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya. Namun, ketika televisi masuk ke rumahnya, TV tersebut mengajarkan kepadanya untuk durhaka kepada suaminya dan bermuka masam di hadapannya. Ia menuntut suaminya supaya menambah berbagai perabot yang ia lihat di sinetron-sinetron dan berbagai bentuk dan mode pakaian yang dipamerkan di televisi. Ia pun melihat di televisi laki-laki yang lebih tampan dan lebih menarik dari suaminya. Akhirnya mulai menertawakan suaminya dan menghinakannya, sehingga rusaklah kehidupan rumah tangganya.
Televisi juga telah melatih para pemuda tentang cara mencuri atau merampok melalui film-film yang mereka saksikan. Dahulu kejahatan masih sangat sedehana sehingga dalam tempo yang singkat dapat terungkap. Adapun sekarang, para penjahat mendapatkan cara dan modus kejahatan terbaru yang didapat dari televisi. Betapa banyak terjadi penculikan, perkosaan dan pembunuhan berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu dan sistematis, serta mampu melemahkan petugas dan menyulitkan mereka untuk mengungkap otak pelaku kerjahatan itu.
Begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan televisi, tapi kebanyakan manusia menutup mata darinya. Dosa yang ditimbulkan televisi begitu besar dan banyak. Dengan dalih berita dan informasi, semua dosa itu menjadi remeh, sirna dan termaafkan.
Fenomena ini sangat mengiris hati kaum mukminin. Hati yang dipenuhi dengan pengagungan kepada perintah dan larangan-larangan Allah - Subhana Wa Ta’ala-. Hanya kepada Allah mereka mengadukan kesedihan ini. Sebab mereka takut akan ancaman Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an ketika merajalelanya kemaksiatan,
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS. Al-Anfal: 25)
Ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab-Nya pada suatu kaum, maka tidak ada yang bisa mencegahnya, walaupun orang-orang shalih berada ditengah mereka. Zainab bintu Jahsyin -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-, ”Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ditengah kita ada orang-orang shalih?”. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نَعَمْ, إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, apabila telah banyak kejelekan” .[HR. Al-Bukhari (7059) dan Muslim (2880)].
Kita yang hidup di zaman ini , seharusnya lebih takut dan khawatir kepada ancaman Allah Yang Maha Keras Siksanya. Kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan, zaman yang penuh dengan fitnah (problema & ujian) dan banyaknya orang yang durhaka kepada Allah serta sangat sedikit orang-orang yang taat. Hal ini bisa kita lihat ketika sebuah konser musik di gelar, maka ribuan manusiapun berbondong-bondong kesana, walaupun hujan lebat mengguyurnya. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika dalam perkara yang ma’ruf. Lihatlah rumah-rumah Allah kosong melompong ketika waktu sholat telah datang. Tidak ada yang menghadirinya melainkan hanya segilintir orang dari kaum muslimin. Itupun kebanyakannya kakek-kakek yang sudah hampir mati.
Wahai kaum muslimin, dahulu betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam ketenangan dan keamanan. Mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan dan melimpahnya makanan. Kemudian Allah membinasakan dan menggantikan keadaan mereka. Allah - Subhana Wa Ta’ala- mengganti nikmat itu dengan kelaparan, rasa takut dan adzab yang pedih. Hal ini disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah - Subhana Wa Ta’ala- . Dengarkan Allah mengisahkan perihal mereka,
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat" . (QS. An-Nahl :112)
Ketahuilah, dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar yang membinasakan umat-umat terdahulu. Hawa nafsu telah menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan merasakan pedihnya siksa Allah Yang Maha Perkasa. Padahal mereka memiliki badan-badan yang lebih kuat dari kita, harta-harta yang melimpah dan tentara-tentara yang banyak. Namun semua itu, tidak mampu melindungi mereka dari murka Allah sedikitpun!! [Lihat Ad-Daa'u wa Ad-Dawaa' (hal.65-67) oleh Ibn Al-Qoyyim, tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauzy]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya" .(QS. Qoof: 36-37).
Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (tobat yang tulus) dan kembalilah kepada-Nya. Semoga Allah -Azza wa Jalla- meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya.
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 113 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Langganan:
Postingan (Atom)
Senin, 31 Mei 2010
SANGGUPKAH AKU MENJAWABNYA
Oleh Al Ustadz Abu Khaulah Zainal A
Sungguh, saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku. Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi olehnya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.
Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa.
Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi itu? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepadaku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?
Sanggupkah aku menjawabnya? ...
Apa yang akan aku katakan, ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku? Cukupkah kujawab: Rabb-ku adalah Allah Subhanahu Wa Ta’aala? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.”? Bolehkah aku beranggapan : “Bahwa tanda keridhaan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku maksiat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang taat dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.”
Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul?
Ya, Allah. Ternyata tak ada jalan untuk mengenalMu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia - sebelum di akhirat kelak tentunya-.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: ”Agama ini tidak realistis, kurang membumi.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Zaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah.”? Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalamnya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku darinya.
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam? Semudah itukah fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu 'Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat.” ? Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah, atau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan ? Mengapa akal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabannya.
Sanggupkah aku menjawabnya ?...
Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya Allah. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:
“Allah Subhanahu Wa Ta’aala meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat...”(QS.Ibrahim: 27)
Sungguh, saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku. Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi olehnya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.
Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa.
Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi itu? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepadaku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?
Sanggupkah aku menjawabnya? ...
Apa yang akan aku katakan, ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku? Cukupkah kujawab: Rabb-ku adalah Allah Subhanahu Wa Ta’aala? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.”? Bolehkah aku beranggapan : “Bahwa tanda keridhaan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku maksiat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang taat dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.”
Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul?
Ya, Allah. Ternyata tak ada jalan untuk mengenalMu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia - sebelum di akhirat kelak tentunya-.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: ”Agama ini tidak realistis, kurang membumi.”? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Zaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah.”? Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalamnya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku darinya.
Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam? Semudah itukah fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu 'Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.
Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat.” ? Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib.”?
Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah, atau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan ? Mengapa akal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?
Ya, Allah. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabannya.
Sanggupkah aku menjawabnya ?...
Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya Allah. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:
“Allah Subhanahu Wa Ta’aala meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat...”(QS.Ibrahim: 27)
MENYONGSONG KEMATIAN
Oleh Al Ustadz Muhammad As-Sewed
Pintu Taubat Belum Ditutup
Setelah kita mengetahui bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan, dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.
Untuk itu, perbanyaklah bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa-dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin malik dikatakan: “Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.’ (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).
Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Az-Zumar: 53)
Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat zhalim kepada makhluk-Nya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat zhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (QS.Qaf: 28-29)
Allah subhaanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.
Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)
Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.
Saat Pintu Taubat Akan Ditutup
Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.
Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(QS.Al Baqarah: 96).
Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS.Al Fajr: 27-28).
Lebih rinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari Al Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit. Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”
Adapun tentang orang kafir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.) Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu-bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Alllah:
“…sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…“(QS.Al A’raaf: 40).
Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Allah:
”…Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh…” (QS.Al Hajj: 31)
Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka….” (HR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H/08 April 2005 M)
Pintu Taubat Belum Ditutup
Setelah kita mengetahui bahwa kematian adalah suatu kepastian, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan, dan semua telah tertulis dalam catatan takdir, maka seorang yang beriman tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian itu.
Untuk itu, perbanyaklah bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai saudaraku kaum muslimin dan beramallah! Minta ampunlah kepada Allah dari dosa-dosa yang telah lalu dengan bertekad untuk menempuh hidup baru di jalan Allah Ta’ala. Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan menerima taubat hamba-Nya sebesar apa pun dosanya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin malik dikatakan: “Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.’ (HR. Tirmidzi –dan beliau menghasankannya).
Bertaubatlah! Dan janganlah putus asa dari rahmat Allah. Rahmat dan ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosamu, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengatakan dengan kasih sayang-Nya:
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Az-Zumar: 53)
Jika telah datang kematian dan kita belum sempat bertaubat, maka jangan kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengadzabnya di alam kubur, maka Allah mengadzabnya dengan keadilan. Jika Allah menghimpitkan bumi ke tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, maka Allah menyiksanya dengan keadilan-Nya. Dan jika mereka merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Dan ketika mereka diadzab di neraka, itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Allah tetap Maha Adil dan tidak berbuat zhalim kepada makhluk-Nya. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat zhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (QS.Qaf: 28-29)
Allah subhaanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya. Allah telah memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.
Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang bermudharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga, kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya: “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dialah yang enggan.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian orang-orang yang enggan untuk masuk surga adalah mereka yang memilih kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Telah kutinggalkan bagi kalian petunjuk yang nyata. Malamnya seperti siangnya sama (terangnya), tidaklah menyimpang setelahku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu ‘Ashim dalam kitab “As-Sunnah”-nya)
Hanya orang yang sombonglah yang engan untuk masuk surga. Hanya manusia yang kejilah yang mengingkari kenikmatan Allah dan tidak mensyukurinya.
Saat Pintu Taubat Akan Ditutup
Ingatlah wahai saudaraku, kematian terus mendekat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; hal itu berarti pintu taubat semakin dekat untuk ditutup.
Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Umar bin Khathab (semoga Allah meridhai keduanya) dari Nabi beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum berada di kerongkongannya. (HR. Tirmidzi dan beliau katakan haditsnya hasan).
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Barangsiapa yang terlalu yakin umurnya akan panjang, maka dia akan kecewa. Barangsiapa yang merasa akan terus hidup dan tidak akan mati pasti dia akan merugi. Dan barangsiapa yang ingin hidup seribu tahun lagi, maka dialah Yahudi yang cinta dunia dan takut mati.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa Allah maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. “(QS.Al Baqarah: 96).
Dengan iman dan amal shalih-lah seharusnya kita menyongsong kematian ini dengan tenang, hingga kita akan dipanggil oleh Allah dengan ucapan:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS.Al Fajr: 27-28).
Lebih rinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam riwayat dari Al Bara’ bin ‘Azib: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila dia menghadap kematian dan meninggalkan dunia, turunlah para malaikat kepadanya, seakan-akan wajah-wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan kapur barus dari surga, dan duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai ruh yang baik, keluarlah engkau kepada ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan kisahnya: “Maka keluarlah ruh tersebut, mengalir bagaikan aliran air dari bibir ceret (tempat air minum). Kemudian malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Dan ketika mengambilnya dia tidak membiarkannya di tangannya, bahkan mereka langsung mengambil dan memasukannya ke dalam kafan dan kapur barus yang mereka bawa. Keluarlah dari jiwa tersebut wewangian yang lebih harum dari misik yang terbaik di muka bumi ini”.
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melanjutkan: “Kemudian mereka membawa naik ruh tersebut ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat, kecuali mereka berkata: “Ruh siapakah yang harum ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan”. Mereka menyebutkan dengan sebaik-baik nama yang dia dipanggil dengan nama tersebut di dunia sampai berakhir di pintu langit. Dan mereka minta untuk dibukakan untuknya, maka dibuka-kanlah pintu langit untuknya. Seluruh penduduk langit dari kalangan malaikat yang didekatkan mengantarkan ruh tersebut ke langit yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai berakhir pada langit yang di atasnya Allah beristiwa’. Allah pun berfirman: “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyin….”
Adapun tentang orang kafir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya ketika orang kafir akan mati, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah yang hitam. Mereka membawa kain kafan, dan duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut dari sisi kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Maka berpencarlah ruh itu di seluruh jasadnya (menolak untuk keluar –pent.) Kemudian dicabutlah ruhnya seperti dicabutnya duri dari bulu-bulu wol yang basah. Setelah (ruh itu) diambil, tidak dibiarkan di tangannya sekejap mata pun, hingga diletakkannya di kafan tadi yang mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Kemudian mereka naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata: “Siapakah ruh yang jelek ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin Fulan” dengan disebutkan sejelek-jelek nama yang dia dipanggil di dunia sampai berakhir ke akhir langit dunia dan meminta untuk dibukakan langit, tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Alllah:
“…sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum…“(QS.Al A’raaf: 40).
Kemudian Allah berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling rendah”. Kemudian dilemparkan ruhnya dengan satu lemparan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membacakan ayat Allah:
”…Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh…” (QS.Al Hajj: 31)
Maka kembalilah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya: “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi: “Siapakah orang yang diutus kepadamu?” Ia menjawab: “Haah… haah… aku tidak tahu”. Maka dikatakan oleh penyeru dari langit: “Dia berdusta. Hamparkanlah hamparan dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka”. Maka sampailah kepadanya hawa panas api neraka….” (HR. Imam Ahmad , Abu Dawud, Hakim, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 56/Th. II, tgl 28 Shafar 1426 H/08 April 2005 M)
LURUSKAN SHAF KALIAN
Oleh Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy
Kedudukan dan Pentingnya Shalat
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.
Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.
Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.
Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Bukhari dan Al Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu'man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih)." (HR. Bukhari no.717 dan Muslim 436)
Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan, "Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS.At-Taubah: 128)
Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.
Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
"Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.
Demikian juga kalimat setelahnya, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.
Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "berpalingnya atau berselisihnya wajah".
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mampu atas segala sesuatu.
Dialah Allah 'Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta'ala berkata kepada mereka,
"Jadilah kalian kera yang hina" (QS.Al Baqarah: 65)
maka jadilah mereka kera.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.
Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, "atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian."
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.
Wajibnya Meluruskan Shaf
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, wal'iyaadzu billaah.
Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah 'Umar Ibnul Khaththab, 'Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus" maka 'Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.
Demikian juga hal ini dilakukan oleh 'Utsman bin 'Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus", beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.
Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.
Kadang-kadang mereka lurus pada raka'at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka'at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka'at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.
Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta'aan.
Semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami'naa wa atha'naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami'naa wa 'ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.
Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum
Kalau ada yang bertanya, "Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?"
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu 'Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu 'Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun 'alaihi)
Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, "Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan", karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.
Jangan Ada yang Menonjol Dadanya
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah." Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.
Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?
Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A'lam.
Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.
(Dikutip dari bulletin Al Wala' wal Bara', Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi'uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)
Kedudukan dan Pentingnya Shalat
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.
Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.
Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat). Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.
Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Bukhari dan Al Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu'man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih)." (HR. Bukhari no.717 dan Muslim 436)
Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan, "Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS.At-Taubah: 128)
Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin. Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.
Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
"Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.
Demikian juga kalimat setelahnya, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.
Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "berpalingnya atau berselisihnya wajah".
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta'ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mampu atas segala sesuatu.
Dialah Allah 'Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta'ala berkata kepada mereka,
"Jadilah kalian kera yang hina" (QS.Al Baqarah: 65)
maka jadilah mereka kera.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.
Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, "atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian."
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, "atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian", yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.
Wajibnya Meluruskan Shaf
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, wal'iyaadzu billaah.
Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah 'Umar Ibnul Khaththab, 'Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus" maka 'Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.
Demikian juga hal ini dilakukan oleh 'Utsman bin 'Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, "Shaf telah lurus", beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.
Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.
Kadang-kadang mereka lurus pada raka'at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka'at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka'at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.
Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta'aan.
Semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami'naa wa atha'naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami'naa wa 'ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.
Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum
Kalau ada yang bertanya, "Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?"
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu 'Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu 'Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun 'alaihi)
Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, "Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan", karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.
Jangan Ada yang Menonjol Dadanya
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah." Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian."
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian" sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.
Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?
Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."
Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A'lam.
Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.
(Dikutip dari bulletin Al Wala' wal Bara', Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi'uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)
MOTIVASI UNTUK SABAR
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Ayat-ayat Al Qur'an tentang Sabar
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS.Az-Zumar: 10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS.Asy-Syuuraa: 43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 153)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian." (QS.Muhammad: 31)
Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.
Pengertian dan Jenis-jenis Sabar
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Allah juga berfirman
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS.Thaha: 132)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 23-24)
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS.Al-Kahfi: 28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.
Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Yusuf: 33)
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).
Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.
Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 24)
Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS.Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR.Bukhariy dan Muslim)
Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Keadaan keempat: bersyukur.
Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.
Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.
Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.
Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.
Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.
Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya."
Tingkatan Sabar
Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.
Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.
Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.
Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.
Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.
(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)
(Sumber: Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
Ayat-ayat Al Qur'an tentang Sabar
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS.Az-Zumar: 10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS.Asy-Syuuraa: 43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 153)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian." (QS.Muhammad: 31)
Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.
Pengertian dan Jenis-jenis Sabar
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Allah juga berfirman
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS.Thaha: 132)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 23-24)
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS.Al-Kahfi: 28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.
Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Yusuf: 33)
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).
Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.
Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 24)
Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS.Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR.Bukhariy dan Muslim)
Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Keadaan keempat: bersyukur.
Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.
Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.
Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.
Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.
Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.
Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya."
Tingkatan Sabar
Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.
Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.
Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.
Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.
Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.
(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)
(Sumber: Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
BERSABARLAH WAHAI SAUDARAKU
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Kriteria Orang yang Paling Mulia
Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS.Al-Hujurat: 13)
Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (HR. Al-Hakim)
Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).
Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Hendaklah Orang yang Mampu Membantu
Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS.Al-Maidah: 2)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Berdo'a ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad)
Juga do'a berikut ini:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Bukhariy)
Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan
Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.
Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin)
Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub:
"Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.
(Sumber: Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-4 Tahun ke-3/17 Desember 2004 M/05 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli ‘Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku’ Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Kriteria Orang yang Paling Mulia
Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS.Al-Hujurat: 13)
Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (HR. Al-Hakim)
Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).
Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Hendaklah Orang yang Mampu Membantu
Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS.Al-Maidah: 2)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Berdo'a ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad)
Juga do'a berikut ini:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Bukhariy)
Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan
Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.
Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin)
Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub:
"Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.
(Sumber: Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-4 Tahun ke-3/17 Desember 2004 M/05 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli ‘Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku’ Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)
SABAR TERHADAP TAKDIR
Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta'ala.
Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur
Qadar atau taqdir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqdur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi'lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta'ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.
Contohnya adalah ‘Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar’, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).
Sedangkan al-maqdur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqdur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: "Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan."
Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqdur.
Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?
Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:
Pertama, marah. Yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman:
"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS.Al-Hajj: 11)
Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan, kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.
Kedua, sabar. Yaitu sebagaimana ucapan penyair:
"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.
Ketiga, ridha. Dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.
Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.
Keempat, bersyukur. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'A`isyah)
"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)
Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.
Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS.At-Taghaabun: 11)
Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.
Firman-Nya "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas): "Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."
Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.
Tanda Kebaikan & Kejelekan Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:
"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim dari 'Ali bin Abi Thalib)
Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.
Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS.Huud: 107)
Dan juga Dia berfirman:
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS.Al-Hajj: 18)
Maka semua perkara itu di tangan Allah. Seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.
Jelasnya, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.
Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.
Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.
Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.
Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian" yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.
"Dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka" ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).
Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq.
(Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)
(Dikutip dari Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3/31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung
Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta'ala.
Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur
Qadar atau taqdir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqdur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi'lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta'ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.
Contohnya adalah ‘Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar’, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).
Sedangkan al-maqdur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqdur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: "Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan."
Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqdur.
Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?
Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:
Pertama, marah. Yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman:
"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS.Al-Hajj: 11)
Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan, kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.
Kedua, sabar. Yaitu sebagaimana ucapan penyair:
"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.
Ketiga, ridha. Dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.
Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.
Keempat, bersyukur. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'A`isyah)
"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)
Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.
Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS.At-Taghaabun: 11)
Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.
Firman-Nya "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas): "Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."
Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.
Tanda Kebaikan & Kejelekan Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:
"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim dari 'Ali bin Abi Thalib)
Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.
Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS.Huud: 107)
Dan juga Dia berfirman:
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS.Al-Hajj: 18)
Maka semua perkara itu di tangan Allah. Seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.
Jelasnya, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.
Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.
Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.
Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.
Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian" yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.
"Dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka" ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).
Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq.
(Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan)
(Dikutip dari Buletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3/31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung
Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Adzab (1)
Oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi
Pembahasan kita kali ini secara umum masih terbilang dari keutamaan Tauhid. Kita angkat tema ini secara lebih khusus karena merupakan keutamaan tauhid yang sangat istimewa bagi para pemeluknya. Tidak semua pemeluk tauhid dapat memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keutamaan ini hanya bagi seorang yang benar-benar merealisasikan tauhid dengan sempurna.
Dalil yang menandaskan tentang keutamaan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma. Bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عرضتُ عَلَي الأممِ، فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب
"Telah ditampakkan umat-umat kepadaku.Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku serombongan besar (yang terlihat dari kejauhan). Aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya”. Kemudian aku melihat serombongan besar yang lain. Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.
Selanjutnya beliau bangkit dan segera masuk ke rumahnya. orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Sebagian orang berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam”. Sedangkan sebagian yang lain berkata, “barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan pada masa Islam. Sehingga mereka tak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikitpun”. Berikutnya mereka menyebutkan beberapa kemungkiunan lain.
mereka memberitahukan perkaranya kepada Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau keluar . Maka beliau bersabda,
هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta di ruqyah, tidak meminta di kay, tidak melakukan tathayyur dan hanya bertawakkal kepada Robb mereka”.
Lalu 'Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.
Beliau menjawab,
“Engkau termasuk golongan mereka.”
Kemudian seseorang ikut berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka”.
Beliau menjawab, “Engkau telah kedahuluan 'Ukasyah".
Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil. Marilah kita menyimak uraiannya satu persatu dengan mengharap wajah allah.
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
عُرِضْتُ عَلَي الأممِ
“Ditampakkan umat-umat kepadaku”
Allah yang maha tahu kapan yang demikan ditampakkan kepada beliau. Maksud pernyataan beliau bahwa Allah memperlihatkan kepadanya perumpamaan saat para nabi datang bersama pengikutnya di hari kiamat nanti. (lihat qurrotul ‘uyun karya syaikh Abdurrahman Alus syaikh hal.27)
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد
“Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.”
Pernyataan beliau diatas mengabarkan bahwa yang selamat dari setiap umat hanya berjumlah sedikit. Mayoritas mereka lebih cenderung mengikuti tabiat manusia berupa pengingkaran kepada para Rosul. akhirnya mereka binasa. Allah berfirman,
(1)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An`am:116)
(2)
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’rof:102)
(3)
“Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".” (Ar-Ruum : 42)
Banyak ayat-ayat yang senada dengan beberapa firman Allah di atas dalam Al-quran.
Orang-orang yang selamat pada hari kiamat nanti walaupun berjumlah sedikit tetapi mereka disebut dengan nama As-sawadul A’zhom (golongan yang besar). Sebab mereka memiliki nilai yang besar di sisi Allah meskipun berjumlah sedikit. Maka hendaknya seorang muslim berhati-hati agar jangan terpedaya dengan jumlah mayoritas. Berapa banyak orang yang terpedaya dengan jumlah mayoritas. Sampai sebagian orang yang mengaku berilmu meyakini masalah agama seperti keyakinan orang-orang yang bodoh dan sesat. Mereka tidak mau menoleh kepada firman Allah dan sabda Rosul-Nya, (sehingga mereka hanya mengukur kebenaran dengan jumlah mayoritas semata). (Lihat Qurrotul ‘Uyun hal.27-28)
Kebenaran Tidak Diukur dengan Jumlah Mayoritas
Hadits diatas menceritakan tentang seorang nabi yang dibangkitkan pada hari kiamat namun tak seorang pun bersamanya. Maksudnya nabi itu tidak memiliki seorang pengikut pun tatkala Allah mengutusnya kepada suatu kaum. Allah hendak menegakkan hujjah kepada manusia dengan mengutusnya. Dengan demikian Allah mengangkat seluruh alasan sebab Allah telah menegakkan hujjah atas mereka. (lihat Al-qoulul Mufid karya Ibnu Utsaimin 1/94-95)
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebenaran sering berpihak kepada jumlah minoritas dan menjauh dari jumlah mayoritas. Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي علي الحق ظاهرين, لا يضرهم من خالفهم, و لا من خذلهم حتي يأتي أمر الله و هم علي ذلك
“Senantiasa sekelompok kecil dari umatku tampak nyata diatas kebenaran. Mereka tidak dibahayakan oleh orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang perintah allah dalam keadaan mereka tetap demikian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Mu`awiyah radhiyallahu `anhu)
Syaikh Abdur rahman bin Hasan Alus-syaikh berkata: “sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam:
Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan jumlah mayoritas sebagai argumen (kebenaran).” (lihat Fathul Majid karya beliau hal.83)
Pembahasan ini mengingatkan kita kepada sebuah kesesatan yang tertanam pada sistem demokrasi. Yaitu menetapkan kebenaran segala sesuatu dengan suara mayoritas. Ini adalah kesesatan yang nyata tanpa dapat diragukan lagi. Terlalu banyak dalil dari Al-quran dan As-sunnah yang menegaskan kesesatan prinsip demokrasi ini. Diantaranya sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas. Ukuran kebenaran adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabinya baik berupa Al-quran maupun As-sunnah. Allah berfirman,
(4)
“Kebenaran itu adalah dari Robbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqoroh:147)
Dalam ayat lain,
(5)
“Ikutilah wahyu yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selainnya.” (Al-A’raaf:3)
Sebaliknya dalam Al-Quran justru Allah melarang untuk mengikuti kebanyakan orang,
(6)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am:116)
Allah tidak memerintahkan kita untuk mengikuti suara mayoritas. Akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk mengikuti kebenaran yang datang dari sisinya walaupun hanya segelintir orang yang berpihak kepadanya. Kita berharap semoga kaum muslimin mau meninggalkan sistem demokrasi yang sesat ini, demi kebahagian hidup mereka didunia sebelum akherat. Allahul Musta`an
Wallahu a’lam bis shawab
Bersambung...
Pembahasan kita kali ini secara umum masih terbilang dari keutamaan Tauhid. Kita angkat tema ini secara lebih khusus karena merupakan keutamaan tauhid yang sangat istimewa bagi para pemeluknya. Tidak semua pemeluk tauhid dapat memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Keutamaan ini hanya bagi seorang yang benar-benar merealisasikan tauhid dengan sempurna.
Dalil yang menandaskan tentang keutamaan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma. Bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عرضتُ عَلَي الأممِ، فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفاً يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب
"Telah ditampakkan umat-umat kepadaku.Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku serombongan besar (yang terlihat dari kejauhan). Aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya”. Kemudian aku melihat serombongan besar yang lain. Maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.
Selanjutnya beliau bangkit dan segera masuk ke rumahnya. orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Sebagian orang berkata, “Barangkali mereka adalah para sahabat Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam”. Sedangkan sebagian yang lain berkata, “barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan pada masa Islam. Sehingga mereka tak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikitpun”. Berikutnya mereka menyebutkan beberapa kemungkiunan lain.
mereka memberitahukan perkaranya kepada Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau keluar . Maka beliau bersabda,
هم الذين لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta di ruqyah, tidak meminta di kay, tidak melakukan tathayyur dan hanya bertawakkal kepada Robb mereka”.
Lalu 'Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.
Beliau menjawab,
“Engkau termasuk golongan mereka.”
Kemudian seseorang ikut berdiri dan berkata, “Mohonlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka”.
Beliau menjawab, “Engkau telah kedahuluan 'Ukasyah".
Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil. Marilah kita menyimak uraiannya satu persatu dengan mengharap wajah allah.
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
عُرِضْتُ عَلَي الأممِ
“Ditampakkan umat-umat kepadaku”
Allah yang maha tahu kapan yang demikan ditampakkan kepada beliau. Maksud pernyataan beliau bahwa Allah memperlihatkan kepadanya perumpamaan saat para nabi datang bersama pengikutnya di hari kiamat nanti. (lihat qurrotul ‘uyun karya syaikh Abdurrahman Alus syaikh hal.27)
Sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam,
فَرَأَيْتُ الَنِبي وَمَعَهُ الرَهْطُ، والَنِبي وَمَعَهُ الرَّجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد
“Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.”
Pernyataan beliau diatas mengabarkan bahwa yang selamat dari setiap umat hanya berjumlah sedikit. Mayoritas mereka lebih cenderung mengikuti tabiat manusia berupa pengingkaran kepada para Rosul. akhirnya mereka binasa. Allah berfirman,
(1)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An`am:116)
(2)
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’rof:102)
(3)
“Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".” (Ar-Ruum : 42)
Banyak ayat-ayat yang senada dengan beberapa firman Allah di atas dalam Al-quran.
Orang-orang yang selamat pada hari kiamat nanti walaupun berjumlah sedikit tetapi mereka disebut dengan nama As-sawadul A’zhom (golongan yang besar). Sebab mereka memiliki nilai yang besar di sisi Allah meskipun berjumlah sedikit. Maka hendaknya seorang muslim berhati-hati agar jangan terpedaya dengan jumlah mayoritas. Berapa banyak orang yang terpedaya dengan jumlah mayoritas. Sampai sebagian orang yang mengaku berilmu meyakini masalah agama seperti keyakinan orang-orang yang bodoh dan sesat. Mereka tidak mau menoleh kepada firman Allah dan sabda Rosul-Nya, (sehingga mereka hanya mengukur kebenaran dengan jumlah mayoritas semata). (Lihat Qurrotul ‘Uyun hal.27-28)
Kebenaran Tidak Diukur dengan Jumlah Mayoritas
Hadits diatas menceritakan tentang seorang nabi yang dibangkitkan pada hari kiamat namun tak seorang pun bersamanya. Maksudnya nabi itu tidak memiliki seorang pengikut pun tatkala Allah mengutusnya kepada suatu kaum. Allah hendak menegakkan hujjah kepada manusia dengan mengutusnya. Dengan demikian Allah mengangkat seluruh alasan sebab Allah telah menegakkan hujjah atas mereka. (lihat Al-qoulul Mufid karya Ibnu Utsaimin 1/94-95)
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebenaran sering berpihak kepada jumlah minoritas dan menjauh dari jumlah mayoritas. Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي علي الحق ظاهرين, لا يضرهم من خالفهم, و لا من خذلهم حتي يأتي أمر الله و هم علي ذلك
“Senantiasa sekelompok kecil dari umatku tampak nyata diatas kebenaran. Mereka tidak dibahayakan oleh orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang perintah allah dalam keadaan mereka tetap demikian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Mu`awiyah radhiyallahu `anhu)
Syaikh Abdur rahman bin Hasan Alus-syaikh berkata: “sabda Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam:
Maka Aku melihat seorang nabi yang bersamanya beberapa orang (berjumlah sepuluh atau kurang), seorang nabi yang bersamanya satu dua orang saja dan seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya.
Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan jumlah mayoritas sebagai argumen (kebenaran).” (lihat Fathul Majid karya beliau hal.83)
Pembahasan ini mengingatkan kita kepada sebuah kesesatan yang tertanam pada sistem demokrasi. Yaitu menetapkan kebenaran segala sesuatu dengan suara mayoritas. Ini adalah kesesatan yang nyata tanpa dapat diragukan lagi. Terlalu banyak dalil dari Al-quran dan As-sunnah yang menegaskan kesesatan prinsip demokrasi ini. Diantaranya sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas. Ukuran kebenaran adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabinya baik berupa Al-quran maupun As-sunnah. Allah berfirman,
(4)
“Kebenaran itu adalah dari Robbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqoroh:147)
Dalam ayat lain,
(5)
“Ikutilah wahyu yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selainnya.” (Al-A’raaf:3)
Sebaliknya dalam Al-Quran justru Allah melarang untuk mengikuti kebanyakan orang,
(6)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am:116)
Allah tidak memerintahkan kita untuk mengikuti suara mayoritas. Akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk mengikuti kebenaran yang datang dari sisinya walaupun hanya segelintir orang yang berpihak kepadanya. Kita berharap semoga kaum muslimin mau meninggalkan sistem demokrasi yang sesat ini, demi kebahagian hidup mereka didunia sebelum akherat. Allahul Musta`an
Wallahu a’lam bis shawab
Bersambung...
Sabtu, 29 Mei 2010
Andaikan Mereka Bersabar
Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da’i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu.Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah, namun dengan cara yang salah !!
Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!".
Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau demo, mengkafirkan penguasa muslim, dan mencelanya!! Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!! Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl :127-128 ).
Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengan kesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar. Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.
Umair bin Habib Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]
Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu. Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya. Terlebih lagi para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut: 2-3).
Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya. Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’idan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran. Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.
Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang. Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.
Al-Mughiroh bin Amir-rahimahullah- berkata,
الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
"Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.
Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?" Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
"Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]
Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ Salafiy,Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan). Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur, tapi bukan dengan cara berbuat keributan, tanpa mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa. Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan sehingga bergejolak (marah), dan bangkit, karena terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi". [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]
Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-. Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.
Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda. Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan. Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik, mereka melakukan aksi-aksi teror dengan melakukan peledakan di mana-mana. Berawal dengan aksi spektakuler yaitu aksi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon, tanggal 11 September 2001. Muncullah sosok Usamah bin Laden yang disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Nama Usamah bin Laden seketika itu menjadi "tenar" di dunia internasional. Hasilnya, Amerika Serikat membumihanguskan Afganistan dan Thaliban serta menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin yang lain dengan alasan memerangi kaum teroris.
Di negeri kita pun tidak kalah heboh, orang-orang yang tidak mau bersabar dan picik pikirannya banyak melakukan aksi-aksi peledakan di nusantara ini. Mulai dari bom di Legian, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Kemudian disusul peledakan di hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003. Berselang berikutnya, disusul lagi peristiwa berdarah pada tanggal 9 September 2004 meledak pula bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia. Tak usah jauh, di pelupuk mata kita, yaitu Mall Ratu Indah Makassar pun tidak lepas dari sasaran orang-orang teroris lagi picik ini!! Sehingga tertumpahlah darah orang-orang yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk dibunuh, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin dan harta benda mereka yang ikut menjadi korban dalam peristiwa-peristiwa berdarah itu!!! Na’udzu billah minal fitan
Andaikan mereka mau bersabar , bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok(6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad (636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804) ]
Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir. Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,
"Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. Al-Baqarah :91 ).
Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : "Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].
Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya. Mereka tidak keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi !!
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu ." (QS. Al-An’am :34 ).
Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang. Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!! Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuraa : 30).
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada. Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya seperti yang dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi". (QS.Ghofir :55 ).
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!".
Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah Islamiyah dan menerapkan syari’at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau demo, mengkafirkan penguasa muslim, dan mencelanya!! Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!! Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da’i. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da’i, yaitu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl :127-128 ).
Para pegiat dakwah alias da’i amatlah butuh dengan kesabaran demi mencontoh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur’an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar. Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da’i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari’at.
Umair bin Habib Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (1/30)]
Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu. Allah -Ta’ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya. Terlebih lagi para da’i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar. Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut: 2-3).
Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da’i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya. Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da’idan kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran. Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.
Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang. Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.
Al-Mughiroh bin Amir-rahimahullah- berkata,
الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
"Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah -Ta’ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.
Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka’bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat] seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo’akan (kemenangan) bagi kami?" Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ
"Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ada pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini hingga seseorang yang berjalan dari Shan’a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR. Al-Bukhariy (3612, & 6943)]
Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama’ Salafiy,Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini, "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan). Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.Orang-orang Yahudi dari Bani Isra’il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur, tapi bukan dengan cara berbuat keributan, tanpa mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa. Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. Adapun orang-orang picik yang diombang-ambingkan oleh perasaan sehingga bergejolak (marah), dan bangkit, karena terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi". [Lihat Syarh Riyadh As-Sholihin (1/104-105)]
Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini dengan baik, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta’ala-. Walau demikian, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.
Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda. Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan. Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik, mereka melakukan aksi-aksi teror dengan melakukan peledakan di mana-mana. Berawal dengan aksi spektakuler yaitu aksi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon, tanggal 11 September 2001. Muncullah sosok Usamah bin Laden yang disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Nama Usamah bin Laden seketika itu menjadi "tenar" di dunia internasional. Hasilnya, Amerika Serikat membumihanguskan Afganistan dan Thaliban serta menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin yang lain dengan alasan memerangi kaum teroris.
Di negeri kita pun tidak kalah heboh, orang-orang yang tidak mau bersabar dan picik pikirannya banyak melakukan aksi-aksi peledakan di nusantara ini. Mulai dari bom di Legian, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Kemudian disusul peledakan di hotel JW Marriott, tanggal 5 Agustus 2003. Berselang berikutnya, disusul lagi peristiwa berdarah pada tanggal 9 September 2004 meledak pula bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia. Tak usah jauh, di pelupuk mata kita, yaitu Mall Ratu Indah Makassar pun tidak lepas dari sasaran orang-orang teroris lagi picik ini!! Sehingga tertumpahlah darah orang-orang yang tidak dibenarkan secara syar’i untuk dibunuh, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin dan harta benda mereka yang ikut menjadi korban dalam peristiwa-peristiwa berdarah itu!!! Na’udzu billah minal fitan
Andaikan mereka mau bersabar , bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok(6303 & 6304), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad (636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 2804) ]
Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin. Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir. Bacalah firman Allah -Ta’ala- ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,
"Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. Al-Baqarah :91 ).
Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo’a : "Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan Muslim dalam Shohih-nya (1792)].
Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar hingga datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya. Mereka tidak keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi !!
Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu ." (QS. Al-An’am :34 ).
Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang. Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!! Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuraa : 30).
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada. Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya seperti yang dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi". (QS.Ghofir :55 ).
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Musuh Berwajah Ramah
Di saat ini, dunia tengah mengalami ancaman krisis moral secara global. Generasi muda yang tidak terbatas pada kaum muslimin saja, tengah dihadapkan pada penghancuran moral secara besar-besaran. Mulai dari narkoba, minuman keras, seks bebas dan penyelewengan terhadap norma agama lainnya. Hal ini dipicu dengan bantuan “si Musuh Berwajah Ramah” alias TV, yang telah berhasil meracuni otak-otak generasi muda. Kehidupan glamour para selebriti yang menawarkan gaya hidup mewah dan perilaku seks bebas, telah menjadi idaman para remaja Tak heran jika banyak para pemuda saat ini tergiur dengan dunia fatamorgana yang disajikan oleh televisi. Antrian panjangpun tak terelakkan ketika kontes artis dibuka. Mereka rela berdesak-desakkan sampai mengorbankan harga dirinya asalkan ia menjadi selebritis.
Televisi telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, manusia memandang bahwa wanita yang memperlihatkan dada dan paha (baca: berpakaian, tapi telanjang) adalah trend masa kini dan ciri era modern. Sehingga banyak manusia yang mengikutinya dan menjadikannya suatu kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya,
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. ”.(QS. Al-A’raf: 25).
Padahal dengan memperlihatkan dada dan pahanya akan menghilangkan rasa malu dan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah. Tidakkah mereka membaca peringatan Allah - Subhana Wa Ta’ala- di dalam Al-Qur’an,
" Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. " (QS. Al A’raf: 27)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa diantara makar setan adalah menelenjangi anak Adam sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawwa’. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, "Allah berfirman demikian dalam rangka mengingatkan anak cucu Adam tentang bahaya setan dan bala tentaranya, dan dalam rangka menjelaskan kepada mereka tentang permusuhan Iblis yang telah lama kepada Bapak manusia –alaihis salam- berupa usaha Iblis dalam mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan kampung kenikmatan menuju kampung kelelahan dan payah, dan Iblis juga menjadi penyebab tersingkapnya aurat Adam yang sebelumnya tertutup darinya. Hal ini tak akan terjadi, kecuali karena permusuhan yang kuat". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/420)]
Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat hingga mereka di hempaskan oleh setan hingga ke jurang kebinasaan yang abadi yaitu neraka. Dengan bantuan televisi, setan membuat kaum muslimin terbiasa menyaksikan kemaksiatan sehingga mereka meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah dan baik. Anas bin malik -radhiyallahu anhu- berkata,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus daripada rambut(sangat remah dan ringan). Namun kami di masa Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- manganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan”. [ HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ar-Riqoq (6492)]
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy]
Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.
Para pembaca budiman, setiap hari televisi menyajikan kepada kaum muslimin tontonan-tontonan yang erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show dan klip lagu yang sarat dengan muatan pornografi telah menjadi menu setiap hari. Para wanita meliuk-liuk di depan kamera dengan mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya. Mereka menjual auratnya demi kehidupan fatamorgana. Akibatnya paha dan dada sudah menjadi pemandangan setiap hari di tengah kaum muslimin. Rasa malu telah hilang dan aurat pun menjadi sangat murah. Mereka bukan saja mencelakakan dirinya sendiri bahkan membuat fitnah di tengah kaum laki-laki dan menyeret kaumnya ke lumpur kehinaan. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan tentang mereka,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُئُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَ كَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk kedalam surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [ HR. Muslim (2128)].
Kerusakan yang ditimbulkan oleh televisi untuk merusak akhlak dan meruntuhkan aqidah kaum muslimin begitu besar dan luas. Sebab, saat ini seolah-olah televisi dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Hingga menjadi aib jika suatu rumah tidak memilikinya. Hampir tak satu rumahpun baik yang berada di kota maupun di pedesaan, melainkan televisi telah hadir dan memberikan pengaruhnya. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta dan syahwat”. [Lihat Majalah Asy-Syari'ah ()]
Saluran-saluran televisi yang ada, seakan berlomba-lomba menyajikan tayangan dan gambar-gambar artis wanita. Oleh karenanya, kita melihat iklan-iklan yang ditayangkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wanita dan yang ditampilkan adalah perempuan yang membuka auratnya. Namun, yang ditonjolkan bukanlah kualitas produknya, tapi justru kemolekan tubuh dan kecantikan wajah wanita itu. Wanita hanyalah di jadikan pemancing agar orang melirik produknya. Padahal perlu diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tak boleh tampak di depan selain mahramnya. Jadi, rambut, dada, paha, kaki, dan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Aurat bukan cuma kemaluan dan sekitarnya, tapi seluruh tubuh wanita!!
Ketika Ummu Salamah bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ujung bawah pakaian wanita, maka beliau bersabda, "Turunkan sejengkal". Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahwa jika turun sejengkal saja, maka masih memungkinkan aurat wanita tersingkap. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ
"Kalau begitu turunkan satu depa (dua jengkal). Jangan melebihi satu depa" . [HR. Abu Dawud (4119), At-Tirmidziy (1731), dan Ibnu Majah (3581). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (hal. 80)]
Hadits ini menunjukkan bahwa pakaian wanita (jilbab) adalah menutupi dari ujung kepala sampai ke tanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mewajibkan wanita di zaman itu untuk menurunkan ujung pakaiannya sebanyak satu satu-dua jengkal dari tengah betis sampai menutupi telapak kaki.
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menutup kedua kaki wanita". [Lihat As-Sunan Al-Kubro (2/233) karya Al-Baihaqiy]
Pembaca budiman, televisi juga telah merusak kehidupan rumah tangga kaum muslimin. Pada hari ini, ibu-ibu sangat gandrung dengan sinetron dan telenovela yang seluruhnya menawarkan gaya hidup mewah dan modern. Dahulu ia bersikap lemah lembut, taat kepada suaminya, menundukkan pandangannya kepada suaminya (memuliakannya), memohon ridhanya jika suaminya marah dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya. Namun, ketika televisi masuk ke rumahnya, TV tersebut mengajarkan kepadanya untuk durhaka kepada suaminya dan bermuka masam di hadapannya. Ia menuntut suaminya supaya menambah berbagai perabot yang ia lihat di sinetron-sinetron dan berbagai bentuk dan mode pakaian yang dipamerkan di televisi. Ia pun melihat di televisi laki-laki yang lebih tampan dan lebih menarik dari suaminya. Akhirnya mulai menertawakan suaminya dan menghinakannya, sehingga rusaklah kehidupan rumah tangganya.
Televisi juga telah melatih para pemuda tentang cara mencuri atau merampok melalui film-film yang mereka saksikan. Dahulu kejahatan masih sangat sedehana sehingga dalam tempo yang singkat dapat terungkap. Adapun sekarang, para penjahat mendapatkan cara dan modus kejahatan terbaru yang didapat dari televisi. Betapa banyak terjadi penculikan, perkosaan dan pembunuhan berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu dan sistematis, serta mampu melemahkan petugas dan menyulitkan mereka untuk mengungkap otak pelaku kerjahatan itu.
Begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan televisi, tapi kebanyakan manusia menutup mata darinya. Dosa yang ditimbulkan televisi begitu besar dan banyak. Dengan dalih berita dan informasi, semua dosa itu menjadi remeh, sirna dan termaafkan.
Fenomena ini sangat mengiris hati kaum mukminin. Hati yang dipenuhi dengan pengagungan kepada perintah dan larangan-larangan Allah - Subhana Wa Ta’ala-. Hanya kepada Allah mereka mengadukan kesedihan ini. Sebab mereka takut akan ancaman Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an ketika merajalelanya kemaksiatan,
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS. Al-Anfal: 25)
Ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab-Nya pada suatu kaum, maka tidak ada yang bisa mencegahnya, walaupun orang-orang shalih berada ditengah mereka. Zainab bintu Jahsyin -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-, ”Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ditengah kita ada orang-orang shalih?”. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نَعَمْ, إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, apabila telah banyak kejelekan” .[HR. Al-Bukhari (7059) dan Muslim (2880)].
Kita yang hidup di zaman ini , seharusnya lebih takut dan khawatir kepada ancaman Allah Yang Maha Keras Siksanya. Kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan, zaman yang penuh dengan fitnah (problema & ujian) dan banyaknya orang yang durhaka kepada Allah serta sangat sedikit orang-orang yang taat. Hal ini bisa kita lihat ketika sebuah konser musik di gelar, maka ribuan manusiapun berbondong-bondong kesana, walaupun hujan lebat mengguyurnya. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika dalam perkara yang ma’ruf. Lihatlah rumah-rumah Allah kosong melompong ketika waktu sholat telah datang. Tidak ada yang menghadirinya melainkan hanya segilintir orang dari kaum muslimin. Itupun kebanyakannya kakek-kakek yang sudah hampir mati.
Wahai kaum muslimin, dahulu betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam ketenangan dan keamanan. Mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan dan melimpahnya makanan. Kemudian Allah membinasakan dan menggantikan keadaan mereka. Allah - Subhana Wa Ta’ala- mengganti nikmat itu dengan kelaparan, rasa takut dan adzab yang pedih. Hal ini disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah - Subhana Wa Ta’ala- . Dengarkan Allah mengisahkan perihal mereka,
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat" . (QS. An-Nahl :112)
Ketahuilah, dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar yang membinasakan umat-umat terdahulu. Hawa nafsu telah menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan merasakan pedihnya siksa Allah Yang Maha Perkasa. Padahal mereka memiliki badan-badan yang lebih kuat dari kita, harta-harta yang melimpah dan tentara-tentara yang banyak. Namun semua itu, tidak mampu melindungi mereka dari murka Allah sedikitpun!! [Lihat Ad-Daa'u wa Ad-Dawaa' (hal.65-67) oleh Ibn Al-Qoyyim, tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauzy]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya" .(QS. Qoof: 36-37).
Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (tobat yang tulus) dan kembalilah kepada-Nya. Semoga Allah -Azza wa Jalla- meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya.
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 113 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Televisi telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, manusia memandang bahwa wanita yang memperlihatkan dada dan paha (baca: berpakaian, tapi telanjang) adalah trend masa kini dan ciri era modern. Sehingga banyak manusia yang mengikutinya dan menjadikannya suatu kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya,
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. ”.(QS. Al-A’raf: 25).
Padahal dengan memperlihatkan dada dan pahanya akan menghilangkan rasa malu dan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah. Tidakkah mereka membaca peringatan Allah - Subhana Wa Ta’ala- di dalam Al-Qur’an,
" Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. " (QS. Al A’raf: 27)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa diantara makar setan adalah menelenjangi anak Adam sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawwa’. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, "Allah berfirman demikian dalam rangka mengingatkan anak cucu Adam tentang bahaya setan dan bala tentaranya, dan dalam rangka menjelaskan kepada mereka tentang permusuhan Iblis yang telah lama kepada Bapak manusia –alaihis salam- berupa usaha Iblis dalam mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan kampung kenikmatan menuju kampung kelelahan dan payah, dan Iblis juga menjadi penyebab tersingkapnya aurat Adam yang sebelumnya tertutup darinya. Hal ini tak akan terjadi, kecuali karena permusuhan yang kuat". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/420)]
Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat hingga mereka di hempaskan oleh setan hingga ke jurang kebinasaan yang abadi yaitu neraka. Dengan bantuan televisi, setan membuat kaum muslimin terbiasa menyaksikan kemaksiatan sehingga mereka meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah dan baik. Anas bin malik -radhiyallahu anhu- berkata,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus daripada rambut(sangat remah dan ringan). Namun kami di masa Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- manganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan”. [ HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ar-Riqoq (6492)]
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy]
Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Tuhan-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.
Para pembaca budiman, setiap hari televisi menyajikan kepada kaum muslimin tontonan-tontonan yang erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show dan klip lagu yang sarat dengan muatan pornografi telah menjadi menu setiap hari. Para wanita meliuk-liuk di depan kamera dengan mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya. Mereka menjual auratnya demi kehidupan fatamorgana. Akibatnya paha dan dada sudah menjadi pemandangan setiap hari di tengah kaum muslimin. Rasa malu telah hilang dan aurat pun menjadi sangat murah. Mereka bukan saja mencelakakan dirinya sendiri bahkan membuat fitnah di tengah kaum laki-laki dan menyeret kaumnya ke lumpur kehinaan. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan tentang mereka,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُئُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَ كَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk kedalam surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [ HR. Muslim (2128)].
Kerusakan yang ditimbulkan oleh televisi untuk merusak akhlak dan meruntuhkan aqidah kaum muslimin begitu besar dan luas. Sebab, saat ini seolah-olah televisi dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Hingga menjadi aib jika suatu rumah tidak memilikinya. Hampir tak satu rumahpun baik yang berada di kota maupun di pedesaan, melainkan televisi telah hadir dan memberikan pengaruhnya. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta dan syahwat”. [Lihat Majalah Asy-Syari'ah ()]
Saluran-saluran televisi yang ada, seakan berlomba-lomba menyajikan tayangan dan gambar-gambar artis wanita. Oleh karenanya, kita melihat iklan-iklan yang ditayangkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wanita dan yang ditampilkan adalah perempuan yang membuka auratnya. Namun, yang ditonjolkan bukanlah kualitas produknya, tapi justru kemolekan tubuh dan kecantikan wajah wanita itu. Wanita hanyalah di jadikan pemancing agar orang melirik produknya. Padahal perlu diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tak boleh tampak di depan selain mahramnya. Jadi, rambut, dada, paha, kaki, dan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Aurat bukan cuma kemaluan dan sekitarnya, tapi seluruh tubuh wanita!!
Ketika Ummu Salamah bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ujung bawah pakaian wanita, maka beliau bersabda, "Turunkan sejengkal". Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahwa jika turun sejengkal saja, maka masih memungkinkan aurat wanita tersingkap. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ
"Kalau begitu turunkan satu depa (dua jengkal). Jangan melebihi satu depa" . [HR. Abu Dawud (4119), At-Tirmidziy (1731), dan Ibnu Majah (3581). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (hal. 80)]
Hadits ini menunjukkan bahwa pakaian wanita (jilbab) adalah menutupi dari ujung kepala sampai ke tanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mewajibkan wanita di zaman itu untuk menurunkan ujung pakaiannya sebanyak satu satu-dua jengkal dari tengah betis sampai menutupi telapak kaki.
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menutup kedua kaki wanita". [Lihat As-Sunan Al-Kubro (2/233) karya Al-Baihaqiy]
Pembaca budiman, televisi juga telah merusak kehidupan rumah tangga kaum muslimin. Pada hari ini, ibu-ibu sangat gandrung dengan sinetron dan telenovela yang seluruhnya menawarkan gaya hidup mewah dan modern. Dahulu ia bersikap lemah lembut, taat kepada suaminya, menundukkan pandangannya kepada suaminya (memuliakannya), memohon ridhanya jika suaminya marah dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya. Namun, ketika televisi masuk ke rumahnya, TV tersebut mengajarkan kepadanya untuk durhaka kepada suaminya dan bermuka masam di hadapannya. Ia menuntut suaminya supaya menambah berbagai perabot yang ia lihat di sinetron-sinetron dan berbagai bentuk dan mode pakaian yang dipamerkan di televisi. Ia pun melihat di televisi laki-laki yang lebih tampan dan lebih menarik dari suaminya. Akhirnya mulai menertawakan suaminya dan menghinakannya, sehingga rusaklah kehidupan rumah tangganya.
Televisi juga telah melatih para pemuda tentang cara mencuri atau merampok melalui film-film yang mereka saksikan. Dahulu kejahatan masih sangat sedehana sehingga dalam tempo yang singkat dapat terungkap. Adapun sekarang, para penjahat mendapatkan cara dan modus kejahatan terbaru yang didapat dari televisi. Betapa banyak terjadi penculikan, perkosaan dan pembunuhan berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu dan sistematis, serta mampu melemahkan petugas dan menyulitkan mereka untuk mengungkap otak pelaku kerjahatan itu.
Begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan televisi, tapi kebanyakan manusia menutup mata darinya. Dosa yang ditimbulkan televisi begitu besar dan banyak. Dengan dalih berita dan informasi, semua dosa itu menjadi remeh, sirna dan termaafkan.
Fenomena ini sangat mengiris hati kaum mukminin. Hati yang dipenuhi dengan pengagungan kepada perintah dan larangan-larangan Allah - Subhana Wa Ta’ala-. Hanya kepada Allah mereka mengadukan kesedihan ini. Sebab mereka takut akan ancaman Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an ketika merajalelanya kemaksiatan,
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS. Al-Anfal: 25)
Ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab-Nya pada suatu kaum, maka tidak ada yang bisa mencegahnya, walaupun orang-orang shalih berada ditengah mereka. Zainab bintu Jahsyin -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-, ”Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ditengah kita ada orang-orang shalih?”. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نَعَمْ, إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, apabila telah banyak kejelekan” .[HR. Al-Bukhari (7059) dan Muslim (2880)].
Kita yang hidup di zaman ini , seharusnya lebih takut dan khawatir kepada ancaman Allah Yang Maha Keras Siksanya. Kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan, zaman yang penuh dengan fitnah (problema & ujian) dan banyaknya orang yang durhaka kepada Allah serta sangat sedikit orang-orang yang taat. Hal ini bisa kita lihat ketika sebuah konser musik di gelar, maka ribuan manusiapun berbondong-bondong kesana, walaupun hujan lebat mengguyurnya. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika dalam perkara yang ma’ruf. Lihatlah rumah-rumah Allah kosong melompong ketika waktu sholat telah datang. Tidak ada yang menghadirinya melainkan hanya segilintir orang dari kaum muslimin. Itupun kebanyakannya kakek-kakek yang sudah hampir mati.
Wahai kaum muslimin, dahulu betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam ketenangan dan keamanan. Mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan dan melimpahnya makanan. Kemudian Allah membinasakan dan menggantikan keadaan mereka. Allah - Subhana Wa Ta’ala- mengganti nikmat itu dengan kelaparan, rasa takut dan adzab yang pedih. Hal ini disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah - Subhana Wa Ta’ala- . Dengarkan Allah mengisahkan perihal mereka,
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat" . (QS. An-Nahl :112)
Ketahuilah, dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar yang membinasakan umat-umat terdahulu. Hawa nafsu telah menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan merasakan pedihnya siksa Allah Yang Maha Perkasa. Padahal mereka memiliki badan-badan yang lebih kuat dari kita, harta-harta yang melimpah dan tentara-tentara yang banyak. Namun semua itu, tidak mampu melindungi mereka dari murka Allah sedikitpun!! [Lihat Ad-Daa'u wa Ad-Dawaa' (hal.65-67) oleh Ibn Al-Qoyyim, tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauzy]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya" .(QS. Qoof: 36-37).
Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (tobat yang tulus) dan kembalilah kepada-Nya. Semoga Allah -Azza wa Jalla- meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya.
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 113 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
Langganan:
Postingan (Atom)